SUKADANA, LAMPUNG TIMUR – mgmltvnews.com – Sejumlah siswa Taman Kanak-kanak (TK) di Kecamatan Sukadana dilaporkan mengalami gejala muntah dan buang air besar (muntaber) massal pada Jumat sore (27/2/2026). Insiden ini diduga terjadi usai para siswa mengonsumsi menu telur asin dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hingga Sabtu pagi (28/2/2026), Dinas Kesehatan (Dinkes), Kepala Puskesmas, serta Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Lampung Timur telah turun langsung mengunjungi para korban yang menjalani perawatan di UGD RSUD Sukadana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat 9 korban yang teridentifikasi, dengan rincian sebagai berikut:
Rawat Inap (Ruang Anak Kelas 3): Davin Julliyan S (3 th) dan Ketut Purwe Wiguna (4 th).
Rawat Inap (Ruang Penyakit Dalam B): Ni Nyoman Suri Asih (56 th).
Rawat Inap (VIP): Kayfalubna (4 th).
Masih di IGD: Safaluna Ataya Qiyyama Putri (6 th) dan Lasmini (48 th).
Rawat Jalan: Fathi Dzakwan A (12 th), Evita Ningrum (14 th), dan Ranti Nur Ashar (5 th).
Ketua LPAI Lampung Timur, Kak Decxy, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Plt. Direktur RSUD Sukadana, Eva Susanti, S.KM., M.M. Pihak rumah sakit membenarkan adanya pasien anak-anak yang dirawat dengan gejala serupa.
”Pihak rumah sakit sudah bergerak cepat. Pada malam hari setelah kejadian, sampel makanan langsung diambil untuk uji laboratorium guna mengetahui penyebab pasti munculnya gejala tersebut,” ujar Decxy.
LPAI juga telah berkomunikasi dengan pihak Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukadana Ilir. Hingga saat ini, pihak SPPG masih menunggu hasil uji lab untuk memastikan apakah telur asin yang dibagikan menjadi penyebab utama atau ada faktor lain.

Decxy menegaskan bahwa Dinas Kesehatan setempat sangat kooperatif dalam menangani kasus ini. Ia mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi sebelum hasil medis resmi keluar.
”Keselamatan anak adalah prioritas utama. Kami meminta orang tua untuk tetap tenang, namun segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala muntah, diare, atau lemas,” tambahnya.
LPAI Lampung Timur berkomitmen untuk terus memantau perkembangan kesehatan para korban dan memastikan hak perlindungan anak terpenuhi selama proses pemulihan.(Saf)













