LAMPUNG TIMUR –.mgmltvnews.com – Suasana khidmat sekaligus mengharukan menyelimuti Aula SLB Negeri Lampung Timur pada Selasa (14/04/2026). Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak , Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Lampung Timur bersama Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Lampung Timur menggelar kegiatan Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang difokuskan pada perlindungan anak berkebutuhan khusus.
Acara ini dihadiri oleh Plt. Kepala Dinas P3AP2KB Lampung Timur, Ibu Titin Wahyuni M.P.d dan Kabid Perlindungan Anak, Ibu Siska, Kepala Sekolah SLBN Lampung Timur, Ibu Duwi Wahyuni, serta Ketua LPAI Lampung Timur, Decxy Vicry Angga, sebagai narasumber utama.

Kegiatan diawali dengan doa bersama dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diikuti dengan penuh khidmat oleh para siswa, guru, dan orang tua murid. Namun, suasana seketika berubah menjadi emosional saat Plt. Kepala Dinas PPA, Ibu Titin Wahyuni, menyampaikan sambutannya.
Bukan sekadar formalitas, Ibu Titin turun langsung dari podium untuk memeluk satu per satu siswa-siswi SLB yang hadir. Beliau juga menyalami para orang tua murid dengan hangat, memberikan dukungan moril yang mendalam. Dalam orasinya, ia menekankan bahwa anak-anak dengan keterbelakangan mental bukanlah sebuah beban, melainkan titipan mulia.
”Anak-anak istimewa ini adalah kelebihan yang Allah titipkan kepada kita. Jika orang tua ikhlas dan sabar dalam merawat mereka, jaminannya adalah surga. Mereka adalah pembuka pintu nikmat dunia dan akhirat,” ujar Ibu Titin dengan nada bergetar yang menyentuh hati para hadirin.
Beliau juga menyampaikan pesan khusus dari Bupati Lampung Timur bahwa pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk memastikan hak-hak anak, terutama mereka yang berkebutuhan khusus, terlindungi dari ancaman kekerasan fisik, pelecehan seksual, hingga perundungan (bullying).

Sebagai narasumber, Ketua LPAI Lampung Timur, Decxy Vicry Angga, memaparkan materi strategis mengenai langkah-langkah konkret dalam menjaga keamanan anak. Ia menekankan lima poin penting yang menjadi landasan perlindungan anak di lingkungan sekolah dan rumah:
Edukasi Jenis Kekerasan: Mengenali bentuk kekerasan agar anak dan orang tua waspada.
Dampak Jangka Panjang: Memahami trauma psikis dan fisik yang bisa menghambat masa depan anak.
Teknik Pencegahan: Memberikan pemahaman kepada anak mengenai bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain.
Sinergi Guru dan Wali Murid: Membangun komunikasi dua arah yang jujur antara pihak sekolah dan rumah.
Mekanisme Pelaporan: Memberikan keberanian kepada orang tua untuk segera melapor ke pihak berwajib atau lembaga perlindungan jika ditemukan indikasi kekerasan.
”Anak-anak kita di SLB ini adalah kelompok yang paling rentan. Maka, peran orang tua dan guru sebagai benteng pertama tidak boleh goyah,” tegas Decxy.
Kegiatan diakhiri dengan sesi diskusi interaktif di mana para wali murid menyampaikan aspirasi dan kekhawatiran mereka. Ibu Siska, selaku Kabid Perlindungan Anak yang bertindak sebagai moderator, menutup acara dengan merangkum poin-poin materi.
Beliau menekankan bahwa sosialisasi ini bukanlah akhir, melainkan awal dari gerakan perlindungan anak yang lebih masif di Lampung Timur. Penekanan utama diberikan pada penguatan mental orang tua agar tetap tegar dalam mendidik putra-putri mereka yang luar biasa.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan komitmen bersama untuk mewujudkan Lampung Timur sebagai Kabupaten Layak Anak yang ramah bagi semua kalangan, tanpa terkecuali.( Saf)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT













